shaleh cukup sebulan
matapena, 300809
Minggu, 30 Agustus 2009
Senin, 27 Juli 2009
aku tak ingin lagi menulis
aku tak ingin lagi menulis
sebab menulis itu membuatku jatuh cinta
dan kalo aku jatuh cinta
aku pasti akan memendamnya
nah, kalo keinginanku menulis terpendam
alangkah sial nasib hidupku
sebab mampus impianku
sebab tak lagi aku jadi penulis
“mangkanya kalo cinta jangan dipendam!”
hus, suara dari mana tuh!
matapena, 27 juli 09
dan kalo aku jatuh cinta
aku pasti akan memendamnya
nah, kalo keinginanku menulis terpendam
alangkah sial nasib hidupku
sebab mampus impianku
sebab tak lagi aku jadi penulis
“mangkanya kalo cinta jangan dipendam!”
hus, suara dari mana tuh!
matapena, 27 juli 09
Selasa, 30 Juni 2009
Kisah Burung, Sangkar, dan Pohon
Bagian II
Di pohon rindang tak hanya satu burung
Bermain teduh di sela reranting dahan
Begitu banyak kicau membuah
Pohon hatinya bungah
“siapa lagi hendak singgah
Silakan saja ku sambut ramah”
Pohon berkabar lewat angin ke seluruh celah
“Tapi perlu ditahu
Buahku sedikit saja tersedia
Harus sama-sama bijaksana”
Sekali lagi pohon rekah rasa
Rindangnya meneduhkan
Buahnya mengenyangkan
Sesiapa singgah dipastikan betah
Hingga satu siang saat terik matahari menyerang
Terlihat beburung saling merapat
Semacam ada rapat
Namun ternyata mereka sama-sama sekarat
Buah pohon tak pernah cukup memberi manfaat
Bagi setiap burung hinggap
Malamnya saat bulan enggan datang
Pohon lesu dan merasa malang
Dirinyalah penyebab segala sengsara
Meski awal niatnya sungguh mulia
Dan anginlah sahabat setia
“kenapa murungmu sungguh layu?”
“sebab buahku hanya satu”
“begitulah takdirmu”
“maka biar kutawarkan saja pada tanah
Saat jatuh, kuharap akan ada yang tumbuh
Menjadi pohon-pohon lain lebih teduh”
Angin diam, ia hanya tersenyum
Pohon juga diam ia menahan ngungun
Beburung diam kicaunya tertahan
ahai, dan lihatlah sangkar, sepertinya akan ada satu burung
Yang menemaninya bukan untuk terpenjara
Tapi lagi-lagi memenjara…
Matapena, 27 Juni 2009
Di pohon rindang tak hanya satu burung
Bermain teduh di sela reranting dahan
Begitu banyak kicau membuah
Pohon hatinya bungah
“siapa lagi hendak singgah
Silakan saja ku sambut ramah”
Pohon berkabar lewat angin ke seluruh celah
“Tapi perlu ditahu
Buahku sedikit saja tersedia
Harus sama-sama bijaksana”
Sekali lagi pohon rekah rasa
Rindangnya meneduhkan
Buahnya mengenyangkan
Sesiapa singgah dipastikan betah
Hingga satu siang saat terik matahari menyerang
Terlihat beburung saling merapat
Semacam ada rapat
Namun ternyata mereka sama-sama sekarat
Buah pohon tak pernah cukup memberi manfaat
Bagi setiap burung hinggap
Malamnya saat bulan enggan datang
Pohon lesu dan merasa malang
Dirinyalah penyebab segala sengsara
Meski awal niatnya sungguh mulia
Dan anginlah sahabat setia
“kenapa murungmu sungguh layu?”
“sebab buahku hanya satu”
“begitulah takdirmu”
“maka biar kutawarkan saja pada tanah
Saat jatuh, kuharap akan ada yang tumbuh
Menjadi pohon-pohon lain lebih teduh”
Angin diam, ia hanya tersenyum
Pohon juga diam ia menahan ngungun
Beburung diam kicaunya tertahan
ahai, dan lihatlah sangkar, sepertinya akan ada satu burung
Yang menemaninya bukan untuk terpenjara
Tapi lagi-lagi memenjara…
Matapena, 27 Juni 2009
Sabtu, 06 Juni 2009
Suhar; Catatan Santri Anyar
Aku tersentak. Monyet itu tiba-tiba melayang dengan sigap meluncur ke arahku tepat. Pekik seringai monyet itu melengking dahsyat. Tak sempat aku mengelak. Dalam sekian detik tubuhku terhentak ke tanah yang daunan di atasnya berserak.
Oleh sebab tubuhku kurus tak berlemak, aku lunglai dadaku sesak. Beradu dengan tanah keras membuat jantung hampir berhenti berdetak. Dalam jarak yang teramat sempit mataku matanya kembali bertemu. Bulat coklat. Sipit kornea hitamnya pucat. Seperti tak ada hidup dan harap. Aneh, ia diam saja sedari berada di atas dada. Hanya kepalan tangannya hendak menyepak kepala.
Tak ada hembus nafas. Tak ada bau yang khas. Dan ketika ku angkat badan, monyet itu tergeletak begitu saja di atas daunan. Dengan badan yang kaku teramat kaku.
Aneh, bisikku. Setelah detak dada teramat kencangnya, kini bulu tubuhku merinding. Kepalaku pening. Dan ketika kuusap bagian belakang. Telapak tangan sudah berlinang merah darah yang amis dan membuatku pingsan. Sekian detik sebelum aku pingsan, kulihat keanehan lain, sebuah percik api di tubuh monyet bagian belakang. Dan di sana terjulur seutas kabel yang nampak lentur.
Aku pingsan…
Oleh sebab tubuhku kurus tak berlemak, aku lunglai dadaku sesak. Beradu dengan tanah keras membuat jantung hampir berhenti berdetak. Dalam jarak yang teramat sempit mataku matanya kembali bertemu. Bulat coklat. Sipit kornea hitamnya pucat. Seperti tak ada hidup dan harap. Aneh, ia diam saja sedari berada di atas dada. Hanya kepalan tangannya hendak menyepak kepala.
Tak ada hembus nafas. Tak ada bau yang khas. Dan ketika ku angkat badan, monyet itu tergeletak begitu saja di atas daunan. Dengan badan yang kaku teramat kaku.
Aneh, bisikku. Setelah detak dada teramat kencangnya, kini bulu tubuhku merinding. Kepalaku pening. Dan ketika kuusap bagian belakang. Telapak tangan sudah berlinang merah darah yang amis dan membuatku pingsan. Sekian detik sebelum aku pingsan, kulihat keanehan lain, sebuah percik api di tubuh monyet bagian belakang. Dan di sana terjulur seutas kabel yang nampak lentur.
Aku pingsan…
Suhar; Catatan Santri Anyar
Suhar sampai di hutan pertama. Ada seekor monyet menatapnya.
…apa mungkin aku bertanya padanya? pada monyet itu? aha, mungkin saja toh ia juga punya bahasa. ya bahasa monyet...
Sepersekian detik mataku mata monyet itu saling bertemu. Mulutnya meringis. Tiba-tiba ada bias ingat dalam benakku; kang Jaledeng!
Ya, suatu sore ketika dari speker masjid terdengar sayup salawat jelang maghrib, ia masih nggentaong di atas pohon pete. Ia paling suka makan pete.
“mangrib, kang!”
Suara entah siapa nyelonong ke telinga-telinga. Mencoba mengingatkan waktunya orang siapkan sembahyang. Termasuk telinga kang Jaledeng tentunya. Namun apa hendak dikata, ia kadung asyik memetik tangkai demi tangkai buah makruh itu. Hingga ketika adzan kumandang, ia masih asyik saja tertawa-tawa.
“Dahsyat! Dahsyat! Akan kubuat seluruh hidung mampat!”
Aku gelang-geleng sambil berlalu ke tempat wudlu. Tiba-tiba…
BLUGGG…!
Bumi sedikit bergetar. Ada benda jatuh dari langit. Orang-orang tetap berlalu lalang. Hilir mudik ke kulah tuk wudlu lalu ke masjid sembahyang. Mereka tak hirau sebab cahaya redup separo. Aku tengok kepala sedikit ke belakang. Ada yang meringis di bawah pohon pete.
Aha, sekarang aku ingat, seringai monyet itu mirip cengir kang Jaledeng waktu jatuh dari pohon pete. Haha…
Lalu dengan bahasa apa aku bertutur sapa? Aku hanya ingin tahu, di mana barat arah kiblat? Sungguh, aku ingin sholat…
Kukuk… kakak.. kuk…
(tobe continue)
Langgan:
Entri (Atom)